TUGAS KESEHATAN MENTAL MINGGU ke 9
“HUBUNGAN INTERPERSONAL''
http://baak.gunadarma.ac.id/
http://baak.gunadarma.ac.id/
NAMA: YOLANDA EKA PUTRI
KELAS: 2pa06
NPM: 1C514447
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
A.
Model-model hubungan interpersonal
1. Model
pertukaran sosial (social exchange model).
Hubungan interpersonal
diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena
mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan
tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat
negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya).
2. Model
peranan (role model).
Hubungan interpersonal
diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya
sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu
bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role
demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik
peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan
dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan
peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah
kemampuan memainkan peranan tertentu.
3. Model
permainan (games people play model).
Model menggunakan
pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam
berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian
dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
a) Kepribadian
orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang
diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
b) Kepribadian
orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
c) Kepribadian
anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak
yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).
4. Model
Interaksional (interacsional model).
Model ini memandang
hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat
struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model
pertukaran, peranan dan permainan.
B.
MEMULAI HUBUNGAN
1. Pembentukan.
Tahap ini sering
disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal
menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”,
ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi
kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan
nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan
proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data
demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
Menurut Charles R.
Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh
kategori, yaitu:
a) informasi
demografis.
b) sikap
dan pendapat (tentang orang atau objek).
c) rencana
yang akan datang.
d) kepribadian.
e) perilaku
pada masa lalu.
f) orang
lain serta,
g) hobi
dan minat.
2. Peneguhan
Hubungan.
Hubungan interpersonal
tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan
memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk
mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara
keseimbangan ini, yaitu:
a) keakraban (pemenuhan
kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
b) Kontrol (kesepakatan
antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang
lebih dominan didalam komunikasi tersebut).
c) respon
yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai
komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu
memberikan feedback yang tepat).
d) nada
emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang
berlangsung).
C.
HUBUNGAN PERAN
Model Peran
Model ini
menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Tidak ada peran
tanpa status sosial atau sebaliknya. Peran sosial bersifat dinamis sedangkan
status sosial bersifat satatis. Dalam masyarakat peran dianggap sangat penting
karena peran menagtur perilaku seseorang berdasarkan norma-norma yang berlaku
dimasyarakat.
Konflik
Konflik merupakan adanya petentangan yang timbul didalam seseorang maupun
dengan orang lain. Konflik dapat berupa perselisihan adanya ketegangan yang
sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak.
Adequancy Peran dan
Autentisitas dal Hubungan Peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisis sosial
baik secara formal maupun informal. Peran didasarkan pada ketentuan dan harapan
peran yang menerangkan apa yang dindividu-individu harus lakukan dalam situasi
tertentu agar dapat ememnuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang
lain menyangkut peran-peran tersebut.
D.
INTIMASI DAN HUBUNGAN PRIBADI
Steinberg (1993)
berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara
dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk
memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif
serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Intimasi dapat
dilakukan terhadap teman atau kekasih. Menurut teori Steinberg yakni subteori
segitiga cinta (triangular sub theory of love) pola cita berkisar pada
keseimbangan antara 3 elemen yakni : keintiman, gairah dan komitmen. Keintiman
(intimacy), unsur emosional yang melibatkan pengungkapan diri, yang mengarah
kepada ketertarikan, kehangatan dan rasa percaya. Jika intimacy, passion dan commitmentterpenuhi
maka sebuah hubungan akan menjadi sempurna karena diliputi oleh cinta yang
menyeluruh (consummate love).
E.
INTIMASI DAN PERTUMBUHAN
Intimacy tidak akan
bertumbuh jika tidak ada cinta. Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita
sesungguhnya kepada orang lain. Cinta ada ketika individu telah mengenal
dirinya sendiri sebagai suatu identitas. Namun kenyataanya takut akan terikat
dengan komitmen menjadi hal yang paling banyak dialami oleh orang pada tahap
ini sehingga menimbulkan perilaku isolasi.
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar