Senin, 18 April 2016

''HUBUNGAN INTERPERSONAL''

TUGAS KESEHATAN MENTAL MINGGU ke 9

“HUBUNGAN INTERPERSONAL''




http://baak.gunadarma.ac.id/


 NAMA: YOLANDA EKA PUTRI
KELAS: 2pa06
NPM: 1C514447


FAKULTAS PSIKOLOGI


UNIVERSITAS GUNADARMA





A. Model-model hubungan interpersonal

1.       Model pertukaran sosial (social exchange model).
Hubungan interpersonal diidentikan dengan suatu transaksi dagang. Orang berinteraksi karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Artinya dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil / laba (ganjaran dikurangi biaya). 

2.       Model peranan (role model).
Hubungan interpersonal diartikan sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki ketrampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan. Ekspetasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas dan yang berkaitan dengan posisi tertentu, sedang tuntutan peranan adalah desakan sosial akan peran yang harus dijalankan. Sementara itu ketrampilan peranan adalah kemampuan memainkan peranan tertentu.

3.       Model permainan (games people play model).
Model menggunakan pendekatan analisis transaksional. Model ini menerangkan bahwa dalam berhubungan individu-individu terlibat dalam bermacam permaianan. Kepribadian dasar dalam permainan ini dibagi dalam 3 bagian yaitu :
a)      Kepribadian orang tua (aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua atau yang dianggap sebagi orang tua).
b)     Kepribadian orang dewasa (bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional).
c)      Kepribadian anak (kepribadian yang diambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak yang mengandung potensi intuisi, spontanitas, kreativitas dan kesenangan).

4.       Model Interaksional (interacsional model).
Model ini memandang hubungann interpersonal sebagai suatu sistem . Setiap sistem memiliki sifat struktural, integratif dan medan. Secara singkat model ini menggabungkan model pertukaran, peranan dan permainan.


B.  MEMULAI HUBUNGAN

1.       Pembentukan.
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap perkenalan. Beberapa peneliti telah menemukan hal-hal menarik dari proses perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain. Bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri. Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan, tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.

Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu:
a)      informasi demografis.
b)     sikap dan pendapat (tentang orang atau objek).
c)      rencana yang akan datang.
d)     kepribadian.
e)      perilaku pada masa lalu.
f)       orang lain serta,
g)     hobi dan minat.

2.       Peneguhan Hubungan.
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini, yaitu:
a)      keakraban (pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang antara komunikan dan komunikator).
b)     Kontrol (kesepakatan antara kedua belah pihak yang melakukan komunikasi dan menentukan siapakah yang lebih dominan didalam komunikasi tersebut).
c)      respon yang tepat (feedback atau umpan balik yang akan terima jangan sampai komunikator salah memberikan informasi sehingga komunikan tidak mampu memberikan feedback yang tepat).
d)     nada emosional yang tepat (keserasian suasana emosi saat komunikasi sedang berlangsung).


C.  HUBUNGAN PERAN

Model Peran
   Model ini menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Tidak ada peran tanpa status sosial atau sebaliknya. Peran sosial bersifat dinamis sedangkan status sosial bersifat satatis. Dalam masyarakat peran dianggap sangat penting karena peran menagtur perilaku seseorang berdasarkan norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

Konflik
    Konflik merupakan adanya petentangan yang timbul didalam seseorang maupun dengan orang lain. Konflik dapat berupa perselisihan adanya ketegangan yang sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak.

Adequancy Peran dan Autentisitas dal Hubungan Peran
    Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisis sosial baik secara formal maupun informal. Peran didasarkan pada ketentuan dan harapan peran yang menerangkan apa yang dindividu-individu harus lakukan dalam situasi tertentu agar dapat ememnuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.



D. INTIMASI DAN HUBUNGAN PRIBADI

Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.

Intimasi dapat dilakukan terhadap teman atau kekasih. Menurut teori Steinberg yakni subteori segitiga cinta (triangular sub theory of love) pola cita berkisar pada keseimbangan antara 3 elemen yakni : keintiman, gairah dan komitmen. Keintiman (intimacy), unsur emosional yang melibatkan pengungkapan diri, yang mengarah kepada ketertarikan, kehangatan dan rasa percaya. Jika intimacy, passion dan commitmentterpenuhi maka sebuah hubungan akan menjadi sempurna karena diliputi oleh cinta yang menyeluruh (consummate love).


E. INTIMASI DAN PERTUMBUHAN

Intimacy tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta. Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain.  Cinta ada ketika individu telah mengenal dirinya sendiri sebagai suatu identitas. Namun kenyataanya takut akan terikat dengan komitmen menjadi hal yang paling banyak dialami oleh orang pada tahap ini sehingga menimbulkan perilaku isolasi.



DAFTAR PUSTAKA












Tidak ada komentar:

Posting Komentar