Kamis, 04 Mei 2017

"TERAPI KELUARGA"

TUGAS PSIKOTERAPI MINGGU ke 3

“Terapi Keluarga"

http://baak.gunadarma.ac.id/

 NAMA: YOLANDA EKA PUTRI
KELAS: 3pa06
NPM: 1C514447


FAKULTAS PSIKOLOGI


UNIVERSITAS GUNADARMA


“TERAPI KELUARGA”
Ø  Konsep Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga (Gurman, Kniskern & Pinsof, 1986). Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekwensi dan konteks social. Contohnya, klien yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interksi orang tua- anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive (Bateson et al,1956; Lidz&Lidz, 1949 ;Sullivan, 1953).
Penelitian mengenai terapi keluarga dimulai pada tahun 1950-an oleh seorang Antropologis bernama Gregory Bateson yang meneliti tentang pola komunikasi pada keluarga pasien skizofrenia di Palo Alto, California. Penelitian ini menghasilkan 2 konsep mengenai terapi dan patologi keluarga, yaitu :
the double bind (ikatan ganda)
Dalam terapi keluarga, munculnya gangguan terjadi saat salah satu anggota membaik tetapi anggota keluarga lain menghalang-halangi agar keadaan tetap stabil.
family homeostasis (kestabikan keluarga)
Bagaimana keluarga menjaga kestabilannya ketika terancam.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan fungsi anggota keluarga maka sistem dalam keluarga musti dipengaruhi dengan melibatkan seluruh anggota keluarga bukan individual/perorangan.
Adanya gangguan dalam pola komunikasi keluarga adalah inti dari double bind. Ini terjadi bila ‘korban’ menerima pesan yang berlawanan/bertentangan yang membuat sulit bertindak konsisten dan memuaskan. Anak diberitahukan bahwa ia harus asertif dan membela haknya namun diwaktu yang sama dia diharuskan menghormati orangtuanya, tidak menentang kehendaknya, dan tidak pernah menanyakan/menuntut kebutuhan mereka. Apa yang dikatakan berbeda dengan yang dilakukan. Keadaan ini selalu ditutupi dan disembunyikan, sehingga si ‘korban’ tidak pernah menemukan sumber dari kebingungannya. Jika komunikasi ini (double bind communication) terjadi berulang kali, akan mendorong perilaku skizoprenik.
Kemudian timbul kontrovesi mengenai teori double bind ini, khususnya dengan faktor gentik dan sosiologi yang menyebabkan terjadinya skizofrenia. Hal ini kemudian melahirkan penelitian untuk pengembangan terapi keluarga.
Teori keluarga memiliki pandangan bahwa keluarga adalah fokus unit utama. Keluarga inti secara tradisional dipandang sebagai sekelompok orang yang dihubungkan oleh ikatan darah dan ikatan hukum. Fungsi keluarga adalah sebagai tempat saling bertukar antara anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional setiap individu. Untuk menjaga struktur mereka, sistem keluarga memiliki aturan, prinsip-prinsip yang memungkinkan mereka untuk melakukan tugas-tugas hidup sehari-hari. Beberapa peraturan yang dinegosiasikan secara terbuka dan terang-terangan, sedangkan yang lain terucap dan rahasia. Keluarga sehat memiliki aturan yang konsisten, jelas, danditegakkan dari waktu ke waktu tetapi dapat disesuaikan dengan perubahan perkembangan kebutuhan keluarga. Setiap anggota keluarga memiliki peranan yang jelas terkait dengan posisi sosial mereka.
Terapi keluarga sering dimulai dengan fokus pada satu anggota keluarga yang mempunyai masalah. Khususnya, klien yang diidentifikasi adalah remaja laki-laki yang sulit diatur oleh orang tuanya atau gadis remaja yang mempunyai masalah makan. Sesegara mungkin, terapis akan berusaha untuk mengidentifikasi masalah keluarga atau komunikasi keluarga yang salah, untuk mendorong semua anggota keluarga mengintrospeksi diri menyangkut masalah yang muncul. Tujuan umum terapi keluarga adalah meningkatkan komunikasi karena keluarga bermasalah sering percaya pada  pemahaman tentang arti penting dari komunikasi (Patterson, 1982).
Terapi keluarga mengajarkan penyelesaian tanpa paksaan, mengajarkan orang tua untuk menetapkan kedisiplinan pada anak-anak mereka, mendorong tiap anggota keluarga untuk berkomunikasi secara jelas satu sama lain, mendidik anggota keluarga dalam prinsip perubahan perilaku, tidak menekankan kesalahan pada satu anggota akan tetapi membantu anggota keluarga apakah hyarapan terhadap anggota yang lain masuk akal.
Pendekatan berpengaruh yang lain disebut strategi atau terapi keluarga terstruktur (Minuchin, 1974; Satir, 1967). Disini, terapis berusaha menemukan problem utama dari masalah klien dalam konteks keluarga, bukan sebagai masalah individual. Tujuannya adalah untuk mengurangi sikap menyalahkan yang mengarah pada satu orang. Contohnya, terapis menyampaikan bahwa perilaku menentang dan agresif dari remaja mungkin adalah tanda dari ketidakamanan remaja atau alasan untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari ayahnya. Pada banyak keluarga yang mengalami stress, pesan emosional begitu tersembunyi sehingga anggota keluarga lebih sering berbicara tanpa berbuat. Mereka sering mengasumsikan bahwa mereka dapat “saling membaca pikiran masing-masing”.
Saat ini, terapi keluarga terstruktur telah disesuaikan untuk membawa faktor budaya yang mungkin berpengaruh pada terapi keluarga dari kelompok etnis tertentu. Untuk membawa keluarga ke terapi, membuat mereka tetap kembali, harus ada perjanjian keluarga yang disusun untuk menghindari hal-hal berikut :
penolakan anak untuk mengikuti terapi,
sikap ambivalen ibu dalam memasukkan keluarganya ke dalam terapi,
penolakan keberadaan seorang ayah dalam keluarga, dan
anggota keluarga tetap berusaha menjaga rahasia keluarga dari orang asing.
Terapi keluarga biasanya diberikan saat pasien sudah dewasa sebagai hasil dari keluarga yang patologis. Terapi individual mungkin tidak berguna karena kondisi keluarga yang tidak mendukung.
Kondisi keluarga itu bisa mengganggu kepribadian dan tingkah laku pasien. Namun jika memungkinkan, tritmen bagi penderita skizofrenia atau borderine yang masih awal dengan memanfaatkan seluruh anggota yang ada mungkin bisa berguna. Terapi dimulai dengan fokus pada masalah yang dialami pasien dalam keluarga dan kemudian anggota keluarga menyampaikan/memberikan kontribusi masing-masing. Terapis bertugas untuk mendorong seluruh anggota keluarga untuk mau terasa terlibat dalam masalah yang ada bersama-sama.

Terapis keluarga biasa dibutuhkan ketika :
1.      Krisis keluarga yang mempengaruhi seluruh anggota keluarga
2.      ketidak harmonisan seksual atau perkawinan
3.      konflik keluarga dalam hal norma atau keturunan
Ø  Tujuan Terapi Keluarga
Tujuan pertama adalah menemukan bahwa masalah yang ada berhubungan dengan keluarganya, kemudian dengan jalan apa dan bagaimana anggota keluarga tersebut ikut berpartisipasi. Ini dibutuhkan untuk menemukan siapa yang sebenarnya terlibat, karenanya perlu bergabung dalam sesi keluarga dalam terapi ini, juga memungkinkan apabila diikutsertakan tetangga, nenek serta kakek, atau keluarga dekat yang berpengaruh. Ada cara tercepat dalam terapi dimana terapis keluarga membuat usaha untuk mempengaruhi seluruh anggota keluarga dengan menunjukan cara dimana mereka berinteraksi dalam sesi keluarga itu. Kemudian, setiap anggota keluarga diminta menyampaikan harapan untuk perkembangan diri mereka sebaik mungkin, umumnya untuk menyampaikan komitmen pada terapis.
Tujuan jangka panjang bergantung pada bagian terapis keluarga, apakah sebagian besar yang dilakukan untuk mengembangkan status mengenali pasien, klarifikasi pola komunikasi dlm keluarga, dll. Dalam survey, responden diminta menyebut tujuan primer dan sekunder mereka, untuk seluruh keluarga, kedalam 8 kemungkinan tujuan. Tujuan yang disebut sebagai tujuan primer ‘mengembangkan komunikasi’ untuk seluruh keluarga, ternyata lebih dipilih ‘mengembangkan otonomi dan individuasi’. Sebagian memilih ‘pengembangan symptom individu’ dan ‘mengembangkan kinerja individu’. Memfasilitasi fungsi individu adalah tujuan utama dari terapi individual, tetapi para terapis keluarga melihat sebagai bukan yang utama dalam proses perubahan keluarga yang luas, khususnya sistem komunikasi dan sikap anggota keluarga yang menghormati anggota lainnya.



Ø  JENIS-JENIS TERAPI KELUARGA
Terapi Keluarga “Bowenian” atau Transgenerasional
            Menurut pendekatan ini, keluarga dilihat sebagai sebuah unit yang saling tergantung secara emosional, dengan pola-pola perilaku yang terbentuk seiring perjalanan waktu dan sering kali diulangi kembali dari generasi ke generasi. Keluarga menciptakan iklim emosional dan pola perilaku yang akan diduplikat oleh anggota-anggotanya dalam hubungan-hubungan di luar setting keluarga.
            Tujuan utama tipe intervensi ini adalah: (a) mengurangi tingkat kecemasan keluarga secara keseluruhan, sehingga memungkinkan anggota-anggotanya untuk berfungsi secara independen dan mengubah perilaku-perilaku bermasalahnya, (b) mengingkatkan tingkat diferensiasi dasar masing-masing anggota dari kebersamaan emosional keluarga, proses yang memungkinkan anggota-anggotanya untuk memberikan respons terhadap berbagai situasi emosional secara lebih efektif. Refleksi diri tentang keluarganya sendiri merupakan hal yang berguna bagi terapis keluarga.
            Teknik-teknik yang digunakan dalam terapi tipe ini adalah:
a.       Klien berbicara dengan terapis, bukan dengan sesama anggota keluarga. Ini untuk  menjaga agar reaktivitas emosional tetap rendah.
b.      Genograms merupakan peta yang merepresentasikan paling tidak tiga generasi dalam keluarga.
c.       Detriangulating yaitu tetap bersikap objektif dan tidak memihak.
Terapi Keluarga Komunikasi dan Satir
            Ciri khas pendekatan ini adalah kenaikan self-esteem anggota keluarga sebagai sarana untuk mengubah sistem interpersonal keluarga. Pendekatan ini mengasumsikan keberadaan keterkaitan antara self-esteem dan komunikasi, di mana kualitas yang satu mempengaruhi kualitas yang lainnya.
            Tujuan dari pendekatan ini adalah meningkatkan kematangan keluarga. Tugas terapis dalam terapi ini sebagai berikut:
a.       Memfasilitasi penciptaan harapan dalam keluarga.
b.      Memperkuat keterampilan coping pada anggota keluarga dan proses-proses coping dalam keluarga itu.
c.       Memberdayakan setiap individu dalam keluarga itu agar dapat menentukan pilihan dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang diambilnya.
d.      Memperbaiki kesehatan masing-masing anggota keluarga dan kesehatan dalam sistem keluarga itu.
Teknik-teknik yang digunakan dalam pendekatan ini adalah:
a.       Kronologi fakta kehidupan keluarga, riwayat keluarga holistik.
b.      Metaphor, yaitu diskusi tentang sebuah ide dengan menggunakan analogi.
c.       Drama. Para anggota keluarga memainkan adegan-adegan yang diambil dari kehidupan mereka.

Terapi Keluarga Eksperiensial
            Pendekatan ini menekankan pada pentingnya mengalami dan mengekspresikan emosi here-and-now. Tipe terapi ini cenderung menekankan pada promosi proses pertumbuhan alamiah dalam keluarga, sambil sekaligus memberikan perhatian pada perebutan tipikal antara otonomi dan interpersonal belonging yang terjadi dalam keluarga. Terapi jenis ini membantu para anggota keluarga untuk meningkatkan rasa memiliki keluarga, sambil meningkatkan kemampuan keluarga itu untuk memberikan kebebasan sebagai individu kepada setiap anggotanya.
            Terapi ini akan sukses jika dapat mencapai sejumlah tujuan yang satu sama lain saling berkaitan. Teknik-teknik yang digunakan dalam terapi ini, yaitu:
a.       Bergabung, yaitu klinisi menjalin hubungan dengan seluruh anggota keluarga.
b.      Pekerjaan rumah. Para anggota keluarga tidak akan membicarakan tentang terapi di sela-sela sesi.
c.       Penggunaan self. Klinisi berhubungan dengan dirinya sendiri dan berbagi dengan keluarga itu.


Terapi Keluarga Milan
            Terapi keluarga Milan melihat bahwa manusia terlibat dalam interaksi-interaksi resiprokal yang mengakibatkan evolusi berkelanjutan dalam keluarga. Konsekuensinya, masalah yang tampak dianggap merupakan fungsi keluarga dan bukan sebagai gejala-gejala patologis yang melekat pada individu tertentu. Biasanya klinisi membantu keluarga menemukan aturan permainan keluarga itu dan memberdayakan mereka untuk mengubah aturan itu untuk memperbaiki hasilnya. Terapis berupaya untuk tetap bersikap netral dan memfasilitasi prosesnya dan bukan menjadi ikut terorganisasi ke dalam sistem keluarga itu.
            Teknik-teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:
a.       Circular questioning, yaitu memungkinkan akses ke persepsi/reaksi anggota-anggota keluarga.
b.      Prescriptions, yaitu instruksi-instruksi paradoksal untuk menangani gejala.
c.       Hipotesis, terapis mengusung ide-ide terdidik dalam sesi.
Terapi Keluarga Konstruktivis atau Naratif
            Fokus dari pendekatan ini adalah perkembangan makna atau cerita tentang kehidupan orang dan peran yang dimainkan orang dalam kehidupannya. Cerita-cerita ini menjadi fokus intervensi. Pengubahan proses-proses evaluasi dan pemaknaan yang dilakukan oleh seluruh anggota sistem itu, dan sistem itu sendiri, guna memperbaiki fungsi unit keluarga itu secara keseluruhan dan mengurangi kepedihan dan penderitaan.
            Teknik-teknik yang digunakan dalam pendekatan ini adalah:
a.       Dekonstruksi, yaitu mengurangi riwayat permasalahan.
b.      Rekonstruksi/re-authoring, yaitu proses pengembangan kisah keluarga yang baru.
c.       Tim yang melakukan refleksi. Sekelompok professional pengamat mendiskusikan tentang keluarga itu.
Terapi Keluarga Berfokus-Solusi
·         Asumsi : perubahan merupakan sesuatu yang tak terhindarkan
·         Fokus    : Bidang-bidang yang dapat diubah, fokus pada hal-hal yang mungkin, berusaha mengambil kekuatan dan kompetensi yang sudah ada dalam keluarga itu dan memanfaatkannya serta memfasilitasi.
·         Teknik yang digunakan :
-          Pertanyaan mukjizat : seberapa berbedakah keluarga ini jika terjadi mukjizat?
-          Mengukur : anggota keluarga diminta member penilaian numeric mengenai keadaan keluarga
-          Dekonstruksi : menciptakan keraguan daam kerangka acuan keluarga
Terapi Keluarga Strategik
·         Fokus : Perubahan perilaku bukan perubahan pemahaman/ insight
·         Lebih berkonsentrasi pada teknik daripada teori
·         Tujuan utama : dihasilkannya solusi dan intervensi
·         Lima tahap dasar terapi:
-          Tahap sosial : klinisi berbicara terhadap tiap orang dalam keluarga dan memperlakukannya seperti tamu.
-          Tahap masalah : klinisi melontarkan pertanyaan spesifik seputar masalah yang dihadapi keluarga tsb
-          Tahap interaksi : klinisi mengumpulkan seluruh anggota keluarga untuk mendiskusikan masalah mereka sambil mengobservasi proses interseksional
-          Tahap penetapan tujuan:  Klinisi mendefinisikan secara operasional tujuan-tujuan yang diinginkan keluarga
-          Tahap penetapan tugas: klinisi memberikan instruksi yang diselesaikan di sela-sela sesi dan didiskusikan dengan anggota keluarga
·         Teknik yang digunakan : perintah, perintah paradoksal, menetapkan gejala
Terapi Keluarga Struktural
·         Menekankan pentingnya proses daripada isi dan melihat struktur keluarga sebagai struktur yang terdiri atas sejumlah transaksi komunikasi keluarga
·         Fokus utama: subsistem dan batas-batas yang ada dalam keluarga tersebut. Batas tersebut dapat bersifat kaku, jelas,kabur.
·         Tujuan utama : mengatasi berbagai masalah dengan mengubah struktur system yang mendasari
·         Sesi terapi bersifat aktif, penekanan pada proses daripada insight
·         3 tahap intervensi:
-          Terapis berusaha bergabung dan diakomodasi oleh system keluarga. Terapis harus menyesuaikan dengan system komunikasi dan persepsi keluarga
-          Pembentukan diagnosis structural dimulai dengan bergabung dengan keluarga dilanjutkan dengan adanya keterlibatan terapis. Membutuhkan observasi dan reformulasi hipotesis yang terus menerus
-          Ketika terapi teraputik bergerak maju, terapis berusaha menggunakan intervensi yang akan menghasilkan restrukturisasi system keluarga
·         Teknik :
-          Mintesis/ imitasi : mengadopsi gaya komunikasi keluarga
-          Mengaktualisasi pola transaksional keluarga : keluarga memainkan adegan interaksi
-          Menandai batas-batas : menguatkan batas-batas yang kabur dan melonggarkan yang kaku

Terapi Behavioral dan Kognitif-Behavioral
·         Asumsi : perilaku sebagai sesuatu yang dipelajari, menekankan pentingnya konsekuensi perilaku dalam pemeliharaan dan kemunculan ulang
·         Fokus: fungsi perilaku dan kognisi
·         Goal : mengidentifikasi pola perilaku, pikiran, anteseden, konsekuensi sehingga klinisi dapat membantu anggota keluarga mempelajari pola perilaku baru yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan
·         Tugas klinisi :
-          mengajari keluarga mengases tindakan, pola pikir dan konsekuensi yang membuat perilaku mereka bertahan atau duiulangi.
-          Mengganti perilaku tidak efektif dengan perilaku adaptif antara lain dengan mengajarkan ketrampilan komunikasi, mengatasi masalah, strategi resolusi konflik, menjalin kontrak, negosiasi, penguatan perilaku sehat, mengurangi perilaki maladaptive.
·         Teknik :
-          Restrukturisasi kognitif : meningkatkan validitas persepsi dan pemrosesan data
-          Menjalin kontrak, latihan komunikasi

Terapi Keluarga Psikodinamik dan Relasi Objek
·         Fokus : latar belakang intrapsikis dari masing-masing anggota, hubungan di masa lalu, ingatan serta konflik di awal kehidupan
·         Tujuan : membuat pola-pola tak sadar yang berlaku dalam keluarga menjadi pola-pola yang disadari.
·         Menggunakan aliansi teraputik, menelaah pertahanan dan resistensi keluarga, membantu anggota keluarga menginternalisasi objek yang adaptif .
·         Teknik :
-          Empati : memahami berbagai pengalaman dari perspektif keluarga tsb
-          Interpretasi : mengklarifikasi aspek yang tidak disadari
-          Netralitas analitik : terapis mempertahankan sikap mental yang analitik
Ø  Pendekatan Terapi Keluarga
1.      Network therapy
Secara  logika,  terapi  keluarga  adalah  perluasan  dari  simultan  dengan semua  yang  tersedia  dari  system  kekeluargaan,  teman,  dan  tetangga serta  siapa  saja  yang  berkepentingan  untuk  memupuk  rasa  kekeluargaan   ( Speck and Attneave, 1971).
2.  Multiple-impact therapy
Multiple-impact  therapy  biasanya  dapat  membantu  remaja pada  saat  mengalami  krisis  situasi  ( MacGregor et al.,1964 ). Tim kesehatan mental bekerja dengan keluarga yang beramasalah selama dua hari. Setelah dibei pengarahan, anggota tim akan dipasangkan dengan  salah satua atau lebih anggota keluarga dengan beberapa varisasi kombinasi. Mungkin ibu dan putrinya dapat ditangani oleh satu orang terapist, sedangkan ayah ditangani secara individual sepert halnya anak laki-lakinya. Bila dibutuhkan regroup diperbolehkan untuk mengeksplorasi maslah keluarga yang rumit. Tujuan dari terapi adalah untuk reorganisasi sistem keluarga sehingga dapat terhindar dari malfungsi. Diharapkan sistem keluarga menjadi lebih terbuka dan adaptif, untuk itu terus dilakukan followup.
3.  Multiple- family and multiple- couple group therapy
Masa  kegiatan  kelompok  keluarga  selanjutnya  menimbulkan  suatu  keadaan  yang  biasa  untuk  membantu  masalah  emosional ( e.g., Laqueur, 1972 ). Model  ini,  partisipan  tidak  dapat  memeriksa  satu persatu  dengan  mentransaksi  keluarga  kecil  mereka  tetapi  mengalami  simultan  mengenai  masalah  ekspresi  oleh  keluarga  dan  pasangan  suami  istri. Dengan  demikian,  terapi  kelompok  ini  dapat  menunjang  pemikiran  pada  pasangan  suami  istri.

DAFTAR PUSTAKA
Becvar, Dorothy S. Becvar, Raphael J. 1976.Family Teraphy ( A systematic Intregation). Adivision of  Simon & Schester, Inc. Needham Height; Massachusetts.
Korchin, Sheldon J. 1976.Modern Clinical Psychology. Basic Books, Inc. Publishers: New York.
Nietzel, Michael. 1998. Introduction To Clinical Psychology. Simon & Schuster /  Aviacom Company. UpperSaddle River: New Jersey.

Minggu, 02 April 2017

Konseling, Psikoterapi, & Rational Emotif Therapy

TUGAS PSIKOTERAPI MINGGU ke 2

“Konseling, Psikoterapi, & Rational Emotif Therapy ''

http://baak.gunadarma.ac.id/

 NAMA: YOLANDA EKA PUTRI
KELAS: 3pa06
NPM: 1C514447


FAKULTAS PSIKOLOGI


UNIVERSITAS GUNADARMA

a.       Pengertain konseling
Menurut Schertzer dan Stone (1980) konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Menurut Jones (1951) konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Dimana ia diberi panduan pribadi dan langsung dalam pemecahan untuk lkien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.
Prayitno dan Erman Amti (2004:105) konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
b.      Contoh konseling
Kasus:
Seorang remaja perempuan yang duduk di bangku kuliah, berumur 20 tahun, berinisial P memiliki konflik dalam memilih keputusan untuk masa depannya. P adalah anak yang biasa melakukan semua hal sendiri. Masa kecilnya, P dikenal anak yang sangat manja. Diumurnya sekarang, P mengakui bahwa ia belum seluruhnya mandiri akan hidupnya. Walaupun ia sudah ditinggalkan ibu dan ayah yang tidak tahu keberadaannya. Ia belum bisa untuk memikirkan pekerjaan untuk masa depan, ia menginginkan setelah lulus sarjana melanjutkan ke S2. Meski orangtua tidak ada di sisinya, namun P masih memiliki abang yang mengurusi segala investasi dari orangtua. P memiliki masalah bahwa ia tidak sanggup mengatakan keinginannya untuk melanjutkan S2 dan meminta abangnya untuk menjual sedikit aset yang ditinggalkan orangtua untuk biaya kuliahnya kelak. Karena, sebelumnya abang juga pernah menjual aset tersebut dengan mengatas namakan P, padahal abangnya menggunakan untuk keperluan pribadi. Jadi, kali ini P ingin merealisasikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan S2nya. P merasa bahwa permintaannya itu tidaklah berat, karena ia berfikir bahwa ia masih sanggup dan memiliki biaya untuk hal itu. Namun, P ragu untuk mengatakannya karena takut tidak dikabulkan. Bagaimana seharusnya P berindak???

Analisis Kasus:
Menggunakan Pendekatan Gestalt
Seperti kasus di atas, konselor dapat menerapkan teknik pembalikan. Teknik pembalikan maksudnya adalah konseli terjun ke dalam suatu yang ditakutinya karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungan dengan bagian-bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Gejala-gejala dan tingkah laku sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasari. Jadi konselor bisa meminta klien memainkan peran yang bertentangan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya atau pembalikan dari kepribadiannya. Seperti halnya P yang takut dan ragu untuk mengungkapkan keinginannya kepada abangya untuk melanjutkan S2 dan meminta abangnya untuk menjual sedikit aset yang ditinggalkan oleh orangtua mereka untuk biaya kuliahnya nanti. Karena P sangat menginginkan setelah lulus sarjana nanti P ingin melanjutkan S2. Di sini konselor perlu membawa konseli untuk masuk kedalam suatu yang di takutinya itu. Konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan konseli untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi konseli. P tidak perlu takut untuk mengatakan keinginannya kepada abangnya tersebut, dan konselor perlu meyakinkan konseli bahwa permintaannya itu akan dikabulkan oleh abangnya, dengan satu hal yang perlu di ingat P harus bertanggung jawab dengan apa yang telah menjadi keputusannya itu kepada abangnya. Walaupun P belum bisa memikirkan pekerjaan untuk masa depannya. Ada dua hal yang dilakukan konselor yaitu, membangkitkan motivasi P sekaligus meyakinkan P bahwa permintaannya akan dikabulkan oleh sang abang, dan membangkitkan otonomi P (menekankan bahwa P harus mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab kepada konselor bahwa P ingin melanjutkan S2 dengan sungguh-sungguh).
Setelah P memperoleh pemahaman dan penyegaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan P memasuki fase akhir konseling. Pada fase ini P menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.
Sehingga dalam kasus ini, sebenarnya tujuan utama dari konseling Gestalt adalah membantu P agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa P haruslah menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Melalui konseling, konselor membantu P agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal.Dimana pendekatan yang sangat memperhatikan kemampuan organisme untuk berkembang dan menentukan tujuannya adalah pendekatan Gestalt. Pendekatan Gestalt lebih menekankan pada apa yang terjadi saat ini-dan-di sini, dan proses yang berlangsung, bukan pada masa lalu ataupun masa depan. Sehingga P dapat mengatakan keinginannya itu kepada abangnya dengan sungguh-sungguh. Bahwa keinginannya saat ini dapat mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan S2. Yang penting dalam pendekatan ini adalah kesadaran saat ini dalam pengalaman seseorang.

c.       Pengertian psikoterapi
Menurut Watson & Morse (1977) Bentuk khusus dari interaksi antara dua orang, pasien dan terapis, pada mana pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya,
Menurut Corsini (1989) Psikoterapi adalah proses formal dari interaksi antara dua pihak, setiap pihak biasanya terdiri dari satu oran, tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan memperbaiki keadaan yyang tidak menyenangkan (distress) pada salah satu dari kedua pihak karena ketidakmampuan atau malafungsi pada salah satu dari bidang-bidang berikut: fungsi kognitif (kelainan pada fungsi berfikir), fungsi afektif (penderitaan atau kehidupan emosi yang tidak menyenangkan) atau fungsi perilaku (ketidaktepatan perilaku); dengan terapis yang memiliki teori tentang asal-usul kepribadian, perkembangan, mempertahankan dan mengubah bersama-sama dengan beberapa metode perawatan yang mempunyai dasar teori dan profesinya diakui resmi untuk bertindak sebagai terapis.
Menurut Ivey & Simek-Downing (1980) Psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian.
d.      Contoh psikoterapi
SEBUAH KASUS FOBIA SPESIFIK
Dikutip dari Buku Psikologi Abnormal jilid 1, ed 5

Lulus ujian adalah titik balik penting dalam hidup carla, tetapi memberinya perasaan ngeri kalau ia berpikir tentang harus memasuki gedung pengadilan negeri. Ia tidak takut bila harus menghadapi hakim yang hostile atau kalah dalam pembelaannya, tetapi karena harus menaiki tangga ke lantai dua dimana ruang-ruang pengadilan berada. Carla, 27 tahun menderita acrophobia atau takut ketinggian. “Lucu jika anda mau tahu,” Carla berkata pada terapisnya. “Saya tidak punya masalah untuk terbang atau melihat keluar jendela pesawat terbang pada ketinggian 30000 kaki. Tetapi escalator di mall  membuat saya berdegup-degup.  Pokoknya setiap situasi di mana saya bisa jatuh, seperti misalnya balkon.”
Orang dengan gangguan-gangguan kecemasan berusaha untuk menghindari situasi atau objek yang mereka takuti. Carla meneliti dulu gedung pengadilan sebelum ia dijadwalkan untuk tampil. Ia merasa sangat lega karena ada elevator di bagian belakang gedung pengadilan yang dapat ia gunakan sehingga ia tidak harus naik tangga.

Analisis Kasus:

Dalam kasus fobia yang diderita Carla, Psikoterapi dapat diterapkan dalam proses treatment penyembuhan fobia yang Carla derita. Dengan menggunakan Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) yang berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Dalam hal ini, Carla telah belajar bahwa "ketika saya berada di tempat ketinggian seperti eskalator atau tangga, maka respon saya adalah perilaku ketakutan akan terjatuh." Joseph Wolpe mengembangkan desentisasi sistematis atas dasar asumsi bahwa fobia adalah sesuatu yang dipelajari atau merupakan respon-respon yang terkondisi. Ia juga berasumsi bahwa perilaku ini dapat dihilangkan melalui counterconditioning. Dalam counterconditioning suatu respon yang tidak harmonis (incompatible) dengan kecemasan dibuat muncul bersama kondisi-kondisi yang biasanya memunculkan kecemasan. Kasus Carla dapat menggunakan prinsip counterconditioning sebagai terapi penyembuhannya. Dengan mengajarkan kepada Carla agar tetap relaks berada ditempat-tempat ketinggian seperti eskalator dan tangga.

e.       Rational emotif therapy
KONSELING  “RATIONAL EMOTIVE THERAPY”
Tokoh teori Albert Ellis ahli psikologi  klinis sering mengkususkan diri dalam bidang konseling perkawinan dan keluarga. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya dalam teori belajar behavioral, kemudian ia mengembangkan suatu pendekatan sendiri yang disebut rational emotive therapy (RET) atau terapi rasional emotif.
Rational Emotive Therapy
Rational emotive therapy dapat diartikan dengan corak konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berfikir dengan akal sehat, berperasaan, dan perilaku serta sekaligus menekankan bahwa suatu suatu perubahan yang mendalam.
Corak konseling RET berpangkal dari beberapa keyakinan tentang martabat manusia dan tentang proses manusia dapat mengubah diri, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bersifat psikologi yaitu :
  1. Manusia adalah makhluk manusiawai artinya manusia mempunyai kekurangan dan keterbatasan, selama hidup di dunia dia dapat berusaha untuk menikmatinya sebaik mungkin.
  2. Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh bekal keturunan atau pembawaan.
  3. Hidup secara rasional berarti berfikir, berperasaan, dan berperilaku sedemikian rupa sehingga kebahagiaan dapat dicapai  secara efisien dan efektif.
  4. Manusia memiliki kecenderungan yang kuat untuk hidup secara rasional dan sehat.
  5. Orang yang kerap berpegang pada keyakinan yang sebenarnya kurang masuk akal atau irasional.
  6. Pikiran-pikiran manusia biasanya menggunakan lambang verbal dan dituangkan dalam bentuk bahasa.
  7. Bilamana manusia tidak bahagia dan mengalami gejolak perasaan yang tidak menyenangkan serta menumbuhkan semangat hidup, rasa-rasa itu bukan berpangkal pada kejadian dan pengalaman yang telah berlangsung, melainkan pada tanggapannya yang tidak rasional terhadap kejadian dan pengalaman itu.
  8. Untuk membantu orang mencapai taraf kebahagiaan hidup yang lebih baik dengan hidup lebih rasional.
  9. Mengubah diri dalam berfikir irasional bukan perkara yang mudah, karena orang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan keyakinan yang sebenarnya tidak masuk akal, ditambah perasaan cemas.


Daftar Pustaka
Gunarsa, Singgih D. 1996. Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Suhesti.2012.Bagaimana Konselor Sekolah Bersikap?.Yogyakarta:Pustaka Pelajar

Corey Gerald.2007.Teori dan Paktek Konseling & Psikoterapi.Bandung: PT Refika Aditama

Hayat,Abdul.2010.Teori dan Teknik Pendekatan Konseling.Banjarmasin:Lanting Media Aksar